Puasa Bagi Yang “Sakit”
Thursday, September 28th, 2006يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواْكُتِبَ عَلَيْكُمُالصِّيَامُكَمَاكُتِبَعَلَى الَّذِينَمِنقَبْلِكُمْلَعَلَّكُمْتَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(QS. 2:183)
أَيَّامًامَّعْدُودَاتٍفَمَن كَانَمِنكُممَّرِيضًاأَوْ
عَلَىسَفَرٍفَعِدَّةٌمِّنْأَيَّامٍأُخَرَوَعَلَىالَّذِينَيُطِيقُونَهُفِدْيَةٌطَعَامُمِسْكِينٍفَمَنتَطَوَّعَخَيْرًافَهُوَخَيْرٌ
لَّهُوَأَنتَصُومُواْخَيْرٌلَّكُمْإِنكُنتُمْتَعْلَمُونَ
(yaitu)
dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang
sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak
berpuasa) membayar fid-yah, (yaitu): Memberi makan seorang miskin.
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka
itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika
kamu mengetahui. (QS. 2:184)
شَهْرُرَمَضَانَالَّذِيَأُنزِلَفِيهِ الْقُرْآنُهُدًىلِّلنَّاسِوَبَيِّنَاتٍمِّنَالْهُدَىوَالْفُرْقَانِفَمَن
شَهِدَمِنكُمُالشَّهْرَفَلْيَصُمْهُوَمَنكَانَمَرِيضًاأَوْ عَلَىسَفَرٍ فَعِدَّةٌمِّنْأَيَّامٍأُ
خَرَيُرِيدُاللّهُبِكُمُالْيُسْرَوَلاَيُرِيدُبِكُمُ الْعُسْرَوَلِتُكْمِلُواْالْعِدَّةَوَلِتُكَبِّرُواْاللّهَعَلَ
مَاهَدَاكُمْوَلَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ
(Beberapa
hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil). Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di
negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada
bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah
kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. 2:185)
Nih ada lagi artikel tentang puasa…tapi buat mereka yang "sakit"…
Kiat-kiat Berpuasa bagi yang Kurang Sehat
Puasa bagi umat Islam adalah tidak makan dan minum, serta
menghentikan segala sesuatu yang membatalkan, sejak terbit fajar sampai
terbenam matahari, atau sekitar 14 jam. Dari berbagai penelitian,
ternyata berpuasa yang baik bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Berpuasa yang baik dan menyehatkan, menurut Dr dr Siti Setiati SpPD
K-Ger MEpid, adalah bila makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh
sesuai kebutuhan. Tidak "balas dendam" atau mengonsumsi makanan
sebanyak-banyaknya ketika berbuka. Penelitian puasa Ramadhan
membuktikan terjadi penurunan jumlah kalori yang masuk ke tubuh sekitar
12 sampai 15 persen, menurunkan radikal bebas, dan sekaligus
meningkatkan antioksidan.
Sedangkan penelitian pada usia lanjut (usila), ujar Siti,
memperlihatkan bila jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh cukup (1,5
-2 liter/hari) tidak ada gangguan fungsi ginjal. Justru puasa - dengan
catatan tidak ada penyakit yang serius selama puasa- menurunkan kadar
kolesterol total, kolesterol "jahat" (LDL), kadar trigliserida dan asam
urat menurun.
"Puasa bermanfaat mengurangi kalori karena pembatasan makan dan minum.
Dari sisi psikologis, berpuasa memberi ketenangan sehingga gula darah
stabil, dan salat tarawih membantu mengeluarkan energi sebesar 200
kalori," ia menjelaskan.
Tidak semua orang dewasa bisa berpuasa. Khususnya bagi mereka yang
sedang sakit. Tetapi, kata dr Reno Gustaviani SpPD dari Divisi
Metabolik Endokrin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI),
ada beberapa pasien tetap berpuasa sekalipun dalam keadaan sakit.
Misalnya penderita kencing manis (diabetes mellitus/DM).
Pengidap DM
Reno menjelaskan, ada syarat bagi pengidap DM bila ingin berpuasa,
yaitu kadar glukosa darah harus terkendali (kadar gula puasa kurang
dari 110 mg/dl). Ia menambahkan, puasa dilarang pada semua penderita DM
tipe 1 yang tidak stabil, pasien DM tipe 1 atau tipe 2 dengan kontrol
yang buruk. Seperti diketahui, DM ada dua tipe. Tipe 1 disebabkan
kekurangan insulin, sedangkan tipe 2 disebabkan insulin tidak berfungsi
dengan baik.
Larangan juga berlaku bagi pasien DM dengan komplikasi serius, yang
sedang hamil dan yang sedang mengalami infeksi. Puasa, ujarnya,
dianjurkan bagi semua pengidap DM tipe 2 dengan berat badan berlebih
yang terkontrol dengan baik. Pasalnya, puasa memperbaiki sensitivitas
insulin dan mengontrol metabolik serta mengurangi berat badan.
"Tetapi perlu memonitor glukosa darah secara ketat karena glukosa darah
dapat berfluktuasi secara cepat selama Ramadhan. Mereka harus
mengetahui gejala hipoglikemia dan dehidrasi. Bila kadar glukosa darah
kurang dari 63 mg/dl, segera berbuka," kata Reno. "Secara bertahap," ia
menambahkan.
Distribusi energi dianjurkan 50 persen saat berbuka puasa, dengan
perincian sebelum salat magrib mengonsumsi makanan ringan dan segar,
dan setelah salat magrib mengonsumsi makanan padat dan besar. Kemudian,
setelah salat tarawih, sekitar 10 persen dari kebutuhan energi yang
diperoleh dari makanan kecil. Pada saat sahur, energi yang masuk
sekitar 40 persen.
Selama berpuasa pengidap DM perlu membuat perencanaan makan. Makan
sahur sebaiknya mendekati imsak, membatasi makanan yang manis. Menurut
Siti, saat berbuka bisa mengonsumsi minuman dan makanan yang manis
dalam jumlah banyak. Tetapi, ketika sahur dikurangi, karena ketika
sese- orang banyak mengonsumsi makanan yang manis akan banyak kencing
sehingga kekurangan cairan.
"Jumlah kalori hampir sama dengan kalori sehari-hari, saat berbuka
dianjurkan untuk makan makanan yang segar dan bergizi. Jangan makan
terlalu berlebihan," kata Reno.
Maag dan Kanker
Sementara dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH MMB mengatakan, puasa bagi
pengidap maag (dispepsia), dalam hal ini dispepsia fungsional,
berdampak pada kesembuhan atau mengurangi keluhan. Dengan berpuasa,
konsumsi makanan teratur, konsumsi camilan berlemak berkurang, merokok
berkurang, minum kopi dan minum bersoda berkurang. Maag fungsional
timbul karena makan tidak teratur, kebiasaan mengonsumsi camilan
berlemak, minum kopi atau minum bersoda sepanjang hari, merokok dan
stres.
Berbeda dengan maag organik. Ari menyebutkan, pengidap maag organik
bisa berpuasa bila sudah diobati. Artinya, penyebabnya harus lebih
dahulu diatasi. Misalnya, kuman Helicobacter pylori, penyebab tukak baik di lambung dan usus dua belas jari.
Bagaimana dengan penderita kanker? Dr dr Noorwaty SpPD KHOM
menjelaskan, pengidap kanker bisa menjalankan puasa asalkan memenuhi
beberapa kriteria. Seperti tidak dalam pengobatan, tidak mengalami
komplikasi penyakit yang berat, misalnya, penyakit jantung, ginjal dan
diabetes mellitus, serta tidak memakai obat secara kontinu dalam
keterikatan waktu yang ketat.
Penderita kanker yang menjalani kemoterapi, pembedahan, dan radiasi,
tidak dapat menjalankan puasa karena penderita kanker memerlukan
nutrisi yang cukup pada saat menjalani terapi, dalam fase remisi, dan
masa penyembuhan. Nutrisi dibutuhkan untuk mempertahankan status
nutrisi penderita, mengurangi efek samping terapi dan meningkatkan
kualitas hidup. Seorang penderita kanker yang menjalani terapi dan
tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, berdasarkan pengalaman selama ini
tingkat ke- sembuhan dan kualitas hidup menurun.
"Kondisi penderita kanker pada situasi tidak puasa saja sudah mengalami
kekurangan nutrisi. Oleh karena itu pada penderita kanker perlu
diperhatikan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh saat terapi berlangsung.
Seorang penderita kanker haruslah memenuhi kebutuhan kalori yang
mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral," ujarnya.
Bagaimana dengan olahraga selama puasa? Menurut Reno, latihan ringan
atau sedang, tidak membahayakan pengidap DM. Bahkan mereka dianjurkan
melakukan kegiatan jasmani seperti biasa. Hanya, ujar Reno, dianjurkan
beristirahat pada siang hari.
Hal senada juga diutarakan Siti. Olahraga ringan seperti jalan kaki di
pagi hari sekitar 15 menit bisa dilakukan. Tetapi, ujarnya, jangan
memaksakan diri. Olahraga di pagi hari bisa digeser waktunya menjelang
buka puasa, agar tidak terlalu lelah di pagi hari.
"Olahraga cukup sore hari sesuai dengan kekuatan. Bisa selama 30 menit.
Ini bisa diukur dari denyut nadi apakah cepat atau tidak. Sebaiknya
olahraga menjelang maghrib," tutur Siti.
Nancy Nainggolan (Pembaruan, last update 16/9/06)




